Beberapa hari lalu, kebetulan saya menjalankan sebuah ibadah
di masjid Muhajirin Banyumanik, kebetulan saya pula saya harus menggunakan
urinoir masjid tersebut, karena kebetulan saya harus buang air kecil. Sebuah
kebetulan yang tidak mengenakan terjadi di sana, karena saya harus mencium bau
yang, maaf, cukup pesing di toilet tersebut. Cukup aneh saya pikir. Toilet
masjid tersebut sangat bersih jika dibandingkan dengan toilet-toilet umum pada
umumnya. My engineer sense is
tingling, seketika saya melihat susunan toilet tersebut. Dan benar saja,
saya pikir saya tahu penyebabnya.
Gambar di atas adalah tampak depan dari urinoir toilet
masjid Muhajirin. Apakah anda berpikiran hal yang sama dengan saya, bung dan
nona? Begini, secara garis besar, proses seseorang untuk membuang air kecil di
toilet yang baik dan benar dibagi menjadi dua fase. Fase buang air kecil itu
sendiri dan, sebagai umat manusia yang adil dan beradab, fase flush. Seperti banyak hal lainnya,
masalah yang sering terjadi disebabkan oleh suatu langkah kecil yang sering
kita abaikan, dan dalam kasus ini adalah fase flush.
Namun hipotesa di atas hanyalah sebuah hipotesa, dimana
hipotesa tanpa pembuktian ilmiah adalah omong kosong belaka. Oleh karena itu
kali ini saya akan melakukan review
design terhadap urinoir Masjid Muhajirin untuk membuktikan hipotesa saya di
atas.
Gambar di atas adalah sketsa tampak depan dan potongan
tampak samping dari sebuah urinoir di Masjid Muhajirin, sebagai catatan jarak
dan detail dari gambar tersebut diambil dari pengamatan visual saja, sehingga
tingkat ketelitian dari analisis ini tergolong kecil. Urinoir tersebut terdiri
dari sebuah saluran terbuka dengan penampang persegi sebagai penampung dan
penyalur urin, dan keran air yang dimaksudkan sebagai alat bantu flush dan cebok (bahasa indonesianya cebok apaan sih?). Satu hal yang
dilewatkan perancang adalah air yang keluarkan oleh keran air sebagai instrumen
flush hanya mampu menjangkau dasar
saluran, sehingga mau tak mau pengguna urinoir harus mengarahkan urinnya TEPAT
dan LANGSUNG ke dasar saluran untuk menghindari pengendapan urin di dinding
urinoir.
Bagian lain dari urinoir yang tidak kalah penting adalah
dinding sekat pembatas antar urinoir. Jangan anggap remeh fungsi dari sekat
ini, sekat ini sangat erat kaitannya dengan positioning
para pengguna urinoir agar gerak jatuh urinnya tepat langsung ke sasaran.
Lebar dinding sekat di toilet tersebut kira-kira 70 cm dan dengan lebar
penampang saluran penampung 30 cm, sebenarnya masih menyisakan 40 cm sebagai
ruang manuver pengguna urinoir untuk menempatkan urinnya di posisi yang tepat,
namun secara psikologis pengguna urinoir biasanya menempatkan diri di tepi
dinding saluran.
Dengan asumsi lebar rata-rata orang dewasa 25 cm, tinggi
jatuh rata-rata 100 cm, sudut poten laki-laki
dewasa 45˚
(Pedersen; A Text Book of Urology in Men,
Women, and Children, Including Urinary and Sexual Infection, Urethroscopy and
Crystocopy), dan kecepatan air senin 235-325 cm/s (Nurnberger, Normal Values of Urine Stream),
didapatkan formula perhitungan sebagai berikut
Dengan demikian dengan jarak maksimum antara dinding dengan
ujung saluran (maaf) penis sebesar 57,5 cm, dibutuhkan masing masing jarak
efektif 56,3 cm dan 48,2 cm dari dinding
oleh Vmin dan Vmax agar tidak terjadi pengendapan urin di dinding urinoir yang
dikaibatkan konsentrasi air urin yang mengendap di dinding tidak dapat dialiri
oleh air dari keran.
Kesimpulan
-
Bau pesing diakibatkan oleh urin yang mengendap
di dinding urinoir
-
Perlu dilakukan redesign urinoir
-
Jika tidak dilakukan redesign, perlu ditambahkan rambu yang berisi jarak minimum+cara
penempatan urin yang tepat di toilet.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar