Rabu, 16 Desember 2015

Review Design Urinoir Masjid Muhajirin Banyumanik

Beberapa hari lalu, kebetulan saya menjalankan sebuah ibadah di masjid Muhajirin Banyumanik, kebetulan saya pula saya harus menggunakan urinoir masjid tersebut, karena kebetulan saya harus buang air kecil. Sebuah kebetulan yang tidak mengenakan terjadi di sana, karena saya harus mencium bau yang, maaf, cukup pesing di toilet tersebut. Cukup aneh saya pikir. Toilet masjid tersebut sangat bersih jika dibandingkan dengan toilet-toilet umum pada umumnya. My engineer sense is tingling, seketika saya melihat susunan toilet tersebut. Dan benar saja, saya pikir saya tahu penyebabnya.



Gambar di atas adalah tampak depan dari urinoir toilet masjid Muhajirin. Apakah anda berpikiran hal yang sama dengan saya, bung dan nona? Begini, secara garis besar, proses seseorang untuk membuang air kecil di toilet yang baik dan benar dibagi menjadi dua fase. Fase buang air kecil itu sendiri dan, sebagai umat manusia yang adil dan beradab, fase flush. Seperti banyak hal lainnya, masalah yang sering terjadi disebabkan oleh suatu langkah kecil yang sering kita abaikan, dan dalam kasus ini adalah fase flush.
Namun hipotesa di atas hanyalah sebuah hipotesa, dimana hipotesa tanpa pembuktian ilmiah adalah omong kosong belaka. Oleh karena itu kali ini saya akan melakukan review design terhadap urinoir Masjid Muhajirin untuk membuktikan hipotesa saya di atas.


Gambar di atas adalah sketsa tampak depan dan potongan tampak samping dari sebuah urinoir di Masjid Muhajirin, sebagai catatan jarak dan detail dari gambar tersebut diambil dari pengamatan visual saja, sehingga tingkat ketelitian dari analisis ini tergolong kecil. Urinoir tersebut terdiri dari sebuah saluran terbuka dengan penampang persegi sebagai penampung dan penyalur urin, dan keran air yang dimaksudkan sebagai alat bantu flush dan cebok (bahasa indonesianya cebok apaan sih?). Satu hal yang dilewatkan perancang adalah air yang keluarkan oleh keran air sebagai instrumen flush hanya mampu menjangkau dasar saluran, sehingga mau tak mau pengguna urinoir harus mengarahkan urinnya TEPAT dan LANGSUNG ke dasar saluran untuk menghindari pengendapan urin di dinding urinoir.

Bagian lain dari urinoir yang tidak kalah penting adalah dinding sekat pembatas antar urinoir. Jangan anggap remeh fungsi dari sekat ini, sekat ini sangat erat kaitannya dengan positioning para pengguna urinoir agar gerak jatuh urinnya tepat langsung ke sasaran. Lebar dinding sekat di toilet tersebut kira-kira 70 cm dan dengan lebar penampang saluran penampung 30 cm, sebenarnya masih menyisakan 40 cm sebagai ruang manuver pengguna urinoir untuk menempatkan urinnya di posisi yang tepat, namun secara psikologis pengguna urinoir biasanya menempatkan diri di tepi dinding saluran.

Dengan asumsi lebar rata-rata orang dewasa 25 cm, tinggi jatuh rata-rata 100 cm, sudut poten laki-laki dewasa 45˚ (Pedersen; A Text Book of Urology in Men, Women, and Children, Including Urinary and Sexual Infection, Urethroscopy and Crystocopy), dan kecepatan air senin 235-325 cm/s (Nurnberger, Normal Values of Urine Stream), didapatkan formula perhitungan sebagai berikut

Dengan demikian dengan jarak maksimum antara dinding dengan ujung saluran (maaf) penis sebesar 57,5 cm, dibutuhkan masing masing jarak efektif 56,3 cm dan 48,2  cm dari dinding oleh Vmin dan Vmax agar tidak terjadi pengendapan urin di dinding urinoir yang dikaibatkan konsentrasi air urin yang mengendap di dinding tidak dapat dialiri oleh air dari keran.

Kesimpulan
-          Bau pesing diakibatkan oleh urin yang mengendap di dinding urinoir
-          Perlu dilakukan redesign urinoir

-          Jika tidak dilakukan redesign, perlu ditambahkan rambu yang berisi jarak minimum+cara penempatan urin yang tepat di toilet.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar