Minggu, 20 Desember 2015

Kritik dan Sepik

Sebagai laki-laki yang selama 21 tahun lebih sering mendapat kritik dan baru 5 tahun belakangan ini merasakan yang namanya sepik, akhirnya saya menyadari ternyata kritik lebih enak daripada sepik, meskipun keduanya sama-sama tidak bisa dimakan. (come on, make a better joke, arif)

Kritik, yang berbagai macam bentuknya itu, baik frontal tajam maupun sindiran halus, saya setiap hari melahapnya, bung dan nona, dan saya belum merasakan kenyang tapi kalo kesel dan marah sering.  Nah, kalau barang yang namanya sepik itu, dulu waktu pertama kali disepik dedek-dedek jaman SMA pas lagi nge-trend- nge-trend-nya twitter rasanya asoy wenak membahana gitu. Namanya juga baru pertama kali. Tapi kok belakangan rasanya beda ya? Mungkin tergantung yang nyepik juga kali ya bwehehehehe, kalo yang nyepik semacem Morgan Oey Tara Basro siapa yang bisa nolak?

Kritik dan sepik, keduanya sama-sama berakhiran -ik, sama-sama punya efek destruktif dan konstruktif. Dalam cerita pendek berjudul The Destructors yang ditulis oleh Graham Greene pada tahun 1957, tertulis " Streaks of light came in through the closed shutters where they worked with the seriousness of creators—and destruction after all is a form of creation. A kind of imagination had seen this house as it had now become." Apa kaitan antara kutipan tersebut dengan kritik dan sepik? Kelihatannya kamu lebih tahu, toh aku meletakkan kutipan tersebut hanya untuk membuat tulisan ini terlihat lebih pintar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar