Kamis, 31 Desember 2015

Korban

Jadi ceritanya minggu lalu di timeline Line ada yang nge-share tentang orang yang boikot perayaan natal gara-gara semangat anti-kapitalisme, terus baru-baru ini mas-mas di fb yang nge-share status bapak-bapak-yang-tulisannya-lebih-menye-dari-dedek-SMA-yang-PMS (you know who), sambil bilang kalo manusia jadi korban kapitalisme pada perayaan tahun baru. Aku jadi penasaran, sebenernya apaan sih korban kapitalisme?

Ditilik dari susunan katanya, korban kapitalisme terdiri dari dua kata, korban dan kapitalisme. Kapitalisme menurut kamus oxford kurang lebih memiliki arti sebuah sistem ekonomi dan politik dimana perdagangan dan industri suatu negara dikontrol oleh pemilik swasta untuk keuntungan, daripada untuk kepentingan negara. Sedangkan kata "korban" sendiri berarti seseorang yang uang terluka, cedera, atau terbunuh  sebagai hasil dari perbuatan kriminal, kecelakaan, atau kejadian lain.

Oke, aku nggak cukup bodoh untuk menyangkal kalo riuh gempita tahun baru adalah sebuah produk kapitalisme. Dan ya, orang-orang yang saat ini sedang berada di jalan, di taman, di tempat gratisan, atau di tempat mahal untuk merayakannya adalah korbannya, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai "konsumen".

Sebagian "korban kapitalisme" tersebut ada yang merayakan tahun baru untuk sekedar tidak dijauhi teman, ada yang ingin membahagiakan pacar, atau ngikut keluarga, atau untuk menjaga eksistensinya. Alasan-alasan tersebut mungkin terdengar bodoh untuk beberapa kalangan (aku ndak termasuk), tapi lebih di atas semua itu bukankah mereka bahagia melakukan hal-hal yang kita sebut bodoh itu?

Kita bisa bilang kebahagian mereka semu, kapitalis membuat kesemuan seolah kebahagian manusia menjadi lebih terpatri dengan label harga, butuh sesuatu yang namanya uang, terus lha njuk ngopo? Semu atau tidak, toh mereka bahagia, rasanya sama. Siapa kita menghalangi orang dengan kebahagiaannya? Cara orang bahagia beda-beda bung, kalo dengan kesemuan itu mereka bahagia yowes. Nek misale kowe jengkel ndelok kok wong seneng-seneng wae dipekoki Mamarika yo kui masalahmu.

Sebagai penutup, untuk informasi saja, saya adalah seorang pria yang menolak untuk menjadi korban.

*lanjut tidur*
*ternyata cuma pledoi gara-gara nggak malem taun baruan*
*padahal adek dah dijemput pacarnya dari maghrib*
*sedih*
*kuciwa*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar