Kamis, 24 Maret 2016

Menolak Kapitalisme

Malam ini adalah malam di mana seharusnya saya mengerjakan materi presentasi sidang akhir saya, namun saya percaya akan free will, sehingga saya memilih untuk menulis tentang hal yang sebenarnya tidak penting-penting amat, kapitalisme.

Kapitalisme, menurut beberapa orang adalah sesuatu yang buruk, suatu najis, namun apakah mereka mengerti dengan benar arti kapitalisme itu sendiri? Oke, skenario yang biasanya terjadi adalah seperti ini:
Dita, seorang mahasiswi tingkat 2, sedang dikejar-kejar deadline, pekerjaannya harus selesai esok lusa, ia pun memutuskan untuk rehat sejenak dan mengembalikan energy bar-nya dengan meneguk kopi di gerai bintangdollar yang hits itu, tidak lupa sebagai seorang anak muda yang berusaha menaiki tangga strata sosial, ia mem-posting hal tersebut di media sosial-nya. Di tempat lain seorang perempuan yang sebenarnya tidak ia kenal-kenal banget, anggap saja bernama Shofi, menggunjing postingan tersebut (atau mungkin lebih tepat disebut nyinyir) dengan teman laki-lakinya. Teman laki-lakinya, yang biasa ia panggil Jono,  ingin terlihat pintar di depan Shofi, lalu ia pun mencoba menggunakan kata-kata keren dan terkesan pintar, "Sadar nggak sih sebenernya si Dita ini udah jadi korban kapitalisme barat?" Ucap Jono kepada Shofi.

Familiar dengan kisah tersebut? Kalau saya sih iya, ghibah for the win! Tapi apakah benar si Dita yang malang itu adalah korban kapitalisme?

Ellen Meiksins Wood, seseorang yang karyanya banyak menjadi rujukan adalah pembahasan mengenai asal usul kapitalisme, secara lugas menyatakan bahwa kapitalisme sering dipahami secara keliru sebagai sebuah sistem politik-ekonomi yang lahir dari keniscayaan sejarah. Bahkan, oleh sebagian kalangan Marxis sendiri, kapitalisme diterima sebagai evolusi alamiah dari pembentangan sistem perdagangan. Akibatnya, kapitalisme dipandang sebagai keniscayaan yang menjerat seluruh sendi kehidupan, tak terelakkan dan sama sekali tidak mungkin untuk membebaskan diri darinya.

Jika anda berpikir bahwa saya hanya copy-paste paragraf di atas tanpa pernah membaca satu pun karya Wood, anda benar. Paragraf di atas dapat anda temukan di artikel ini. Tentu anda tahu sebagai pemalas saya tidak pernah membaca buku dan hanya menghabiskan hari-hari sia-sia saya di depan layar.

Menurut Wood kapitalisme adalah suatu kondisi di mana pasar bukanlah menjadi mekanisme perdagangan biasa, melainkan penentu utama dan pengatur seluruh aspek kehidupan lainnya, bahkan keberlangsungan hidup itu sendiri. Di mana pasar menjadi kekuatan yang memaksa, bukan sebuah pilihan sebagaimana sistem sebelumnya yang di dalamnya para penghasil atau produsen bebas menjual atau tidak menjual hasil produksinya karena mereka tetap punya akses non-pasar terhadap sarana reproduksi sosial untuk bertahan hidup.
Lalu apakah Dita di atas termasuk korban kapitalisme? Coba pikirkan sendiri menggunakan otakmu, Hayati, sebab otakku tidak mampu.

Sekarang saya akan menceritakkan tentang seorang laki-laki yang sebenarnya tidak peduli-peduli amat dengan yang namanya kapitalisme atau apa pun itu. Di masa kecilnya, orang tuanya cukup berada, tapi kita tahu tidak semua berjalan manis. Singkat cerita, ketika laki-laki itu berusia 17an, orang tuanya jatuh sakit, seolah jatuh tertimpa tangga, usaha orang tuanya pun ikut runtuh, utang sana sini untuk biaya pengobatan, dan untungnya si laki-laki ini tumbuh menjadi pria dan berhasil menamatkan kuliahnya dengan jerih payahnya sendiri. 

Kini pria itu telah menikah dan memiliki 4 orang anak. Dalam pekerjaannya ia tidak pernah terlalu ngoyo (apa bahasa indonesia-nya ngoyo?), sebagai seorang wiraswasta ia berangkat agak siang pulang siang, hobinya makan malam di luar. Anak laki-lakinya yang tampan, ketika itu berusia 16an, selalu mempertanyakan sikap bapaknya itu. Seperti anak laki-laki seusianya ia tentu ingin menaiki tangga strata sosial, dan untuk menaiki tangga itu (menurutnya) ia memerlukan orang tua yang kaya. Tapi bagaimana mau kaya kalu bekerjanya setengah-setengah seperti itu? Pikirnya saat itu.

Sekarang anak laki-laki itu sudah menjadi laki-laki tanggung, tidak bisa dibilang pria karena hidupnya masih nebeng, untungnya otaknya sudah bisa diajak berpikir. Dia akhirnya tahu si kampret yang ia sebut bapak itu menolak kapitalisme secara naluriah, tanpa mengetahui apapun tentang tulisan si Ellen Meiksins Wood itu.

Lalu apakah si laki-laki tanggung tampan tersebut ingin menjadi "anti"kapitalisme seperti bapaknya? Tentu tidak. Aku butuh uang yang banyak biar bisa dapet pacar cantik terus dipamerin ke temen-temen. Tai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar