"It's not tragic to die doing what you love."
Bullshit. Entah kenapa aku selalu meihat kematian sebagai sebuah hal yang tragis, bukan sebagai sebuah hal yang alami. Oke, aku tau ini (mungkin) salah, tapi ya mau apa dikata, selalu ada beberapa hal di kehidupan yang tidak bisa kita ubah kan? Walaupun dalam kasus ini lebih ke "tidak ingin saya ubah". Kenapa tidak ingin? Ya karena emang tidak mau aja sih, bukan masalah apa-apa, tapi karena berubah itu capek. Lalu kemudian ada orang "kita harus selalu berubah ke arah yang lebih baik", di sisi lain kebaikan adalah sebuah hal yang sangat subjektif. Omong kosong, di dunia ini semua serba subjektif.
Beberapa orang mengkultuskan kematian dalam hal yang mereka cintai, beberapa lainnya mengkultuskan kematian dalam pekerjaan, padahal mereka semua belum pernah mengalami yang namanya kematian. Sebagian mungkin pernah melihat, tapi jelas melihat berbeda dengan mengalami.
"If one day the speed kills me, don't cry. Because I was smiling." -Paul Walker-
Apa kamu yakin Paul Walker tersenyum ketika menabrak pohon dengan mobil mahalnya? Saya pikir tidak.
Oke, kita akan melakukan perjalanan singkat menuju 3 tahun lalu, tepatnya ke medio Maret 2013.
7 Maret 2013, semester 3, tidak banyak yang kulakukan waktu itu, paling hanya mengerjakan tugas. Dari pagi hingga siang aku menghabiskan waktu bersama satu orang, namanya Hari. Hari dan aku berada dalam satu kelompok di tugas RLL tersebut, sebenarnya ada beberapa anak lain, tapi entah kenapa -dan seperti biasanya- hanya kami berdua yang mengerjakan.
8 Maret 2013, setelah kuliah aku tidak langsung pulang ke rumah karena maneman bensin (tidak bisa menemukan kata-kata lain), lalu pada siangnya aku melakukan Salat Jumat bersama si Hari ini di masjid dekat kosnya.
10 Maret, sekitar pukul 9, layaknya pemuda kekinian 2013 aku membuka halaman facebook. Scrolling, judging. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk, ternyata dari teman SMA.
"Temen kuliahmu ada yang ilang di gua ya?"
Aku yang ketika itu tidak tau apa-apa hanya plonga plongo saja, jaman sekarang mana ada orang hilang di gua.
Sebagai insan penasaran aku mencari tau sumber berita itu, dan ya, ternyata memang ada 2 orang yang hilang di gua ketika itu.
Lebih lanjut, ternyata salah satu yang hilang, oke ini sinetron banget tapi ini nyata, adalah Hari.
Menurut keluarganya, Hari cenderung anak yang ansos, hari-harinya berisi kegiatan belajar dan ngaji, kata saudara-saudaranya ia lebih suka menghabiskan waktu sendiri dengan gadget dan laptopnya. Hingga kemudian Hari tergabung dalam Mapateksi, organisasi pecinta alam di kampusku. Menurut orang tuanya semenjak itu ia sedikit berubah, menjadi lebih mudah tertawa, dan punya lebih banyak teman.
10 Maret, pada hari itu ia dan teman-temannya sedang melakukan survei untuk kegiatan pelantikan organisasinya. Sore itu cuaca agak mendung, mereka masuk ke dalam Gua Kiskendo, Kendal. Tak selang beberapa lama hujan turun, sepertinya lumayan deras. Di dalam gua mereka harus melewati beberapa sungai bawah tanah untuk mencapai lokasi pelantikan. Setelah melakukan survei, mereka pulang (tentunya), dan tentu saja, mereka harus menyeberangi sungai bawah tanah tadi. Di kodisi normal, sungai tersebut hanyalah sungai kecil, tapi saat itu, hujan di permukaan sedang deras-derasnya, jadi ya itu tidak menjadi sungai kecil lagi. Entah apa yang membuat mereka tidak mau menunggu, mungkin air mulai menggenangi gua, mereka meyeberangi sungai. Ternyata penyeberangan tidak berjalan lancar, air bah meluncur ketika Hari dan Batum sedang menyeberangi si "sungai kecil". Batum pingsan, Hari masih berpegangan minta tolong, ketiga temannya berusaha menolong, tapi ya apa daya. Cukup sampai di sini ya, saya tidak sanggup untuk menceritakan detail selanjutnya.
Apa menurut kalian ketika Hari berpegangan minta tolong ia sedang tersenyum? Saya pikir tidak. Saya membayangkan ia teriak putus asa minta mimpinya diselamatkan, memohon agar cita-citanya tidak dirampas oleh air bah. Dan para bule itu bilang ini bukan kematian yang tragis?
Inti dari tulisan ini adalah jangan menarik kesimpulan dari hal yang tidak kamu tahu, soal kematian yang belum kamu hadapi. Kematian yang indah bukan hal yang sesederhana mereka pikirkan, padalah kematian adalah hal yang akan ditemui setiap manusia yang hidup, dan tentu mereka-mereka sudah beberapa kali melihat momen kematian, lalu mereka masih mencoba membicarakan hal tentang surga?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar