Sabtu, 19 Maret 2016

Berdiri di Satu Sisi

Dari lubuk hati yang paling dalam ada sedikit bagian dari diri saya yang salut pada bigot-bigot yang eksis di seluruh dunia. Serius. Mungkin mereka menjengkelkan, bodoh, tapi ya mau bagaimana lagi, kapasitas otak tiap orang kan memang berbeda. Aku masuk yang kapasitasnya kecil. Tapi yang membuat saya salut pada mereka adalah mereka berani untuk berdiri di sisi yang mereka anggap benar. Beberapa dari kita mengkorelasikan hal tersebut dengan kecilnya kapasitas otak mereka. Namun bagi saya pernyataan itu salah, saya yang kapasitas otaknya sama kecil dengan mereka saja tidak "berani" berdiri untuk sisi mana pun kok, contoh riil lainnya yang mampu menjadi penyanggah pernyataan di atas adalah mbak-mbak-di-timeline-saya-lulusn-ITB-perminyakan tapi hobinya nge-share "Berdakwah", "Prestigeholic", "Faktual", dll. maupun dedek-dedek-yang masih-dari-timeline-saya suka nge-like post "Golongan darah".

Meskipun begitu, saya (masih terus berusaha untuk) yakin bahwa tidak ada satu pihak yang lebih baik dari pihak lainnya, dengan mempertimbangkan semua-semua di dunia yang serba subjektif. Saya (masih terus berusaha untuk) yakin bahwa orang yang berdiri untuk satu sisi tidak lebih baik dari orang yang tidak berdiri untuk sisi manapun, begitu pula sebaliknya.

Kalau mungkin suatu saat kalian mendapati saya mengejek ibu-ibu atau mbak-mbak dengan cadar dengan sebutan "ninja", lha mbok percaya mbek aku ada beberapa bagian dari saya yang salut sama mbak itu (walaupun mungkin cuma sedikit).

Omonganku beda sama yang dulu? Dulu waktu umur 3 tahun aku juga nggak bisa baca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar