Kamis, 07 April 2016

Amat, Jalanan, dan Cita-Cita yang Tidak Kesampaian

Amat adalah seorang anak yang biasa saja, terlahir di keluarga yang biasa, besar di lingkungan yang biasa saja, dengan hal-hal yang serba biasa, semuanya serba biasa saja.
Tamat.

Oops, that's not how it works, ain't? Hahahahaha
Oke, sebagai bumbu cerita, anggap saja Amat memiliki masalah. Apa masalah Amat? Hanya Amat yang tahu. Tidak, saya tidak sedang bercanda, sungguh saya juga tidak tahu apa masalah Amat. Saya terus membayangkan apa masalah yang dimiliki oleh tokoh rekaan saya ini, tapi saya tetap tidak menemukan sesuatu yang salah di kehidupan Mas Amat. Secara terminologi masalah selalu berhubungan dengan hal yang salah, lalu jika tidak ada yang salah apa masalahnya?

Setelah saya renungkan selama 2 minggu, ternyata masalah Amat adalah sebuah masalah yang sebenarnya tidak ada tapi dibuat-buat supaya ada. Dan, lebih lanjut, masalah itu di"ada"kan karena menurut beberapa pemuka agama masalah itu memang harus ada.

Secara kasat mata, Amat tidak sedang menghadapi satu masalah apapun, namun pikiran Amat terus menerus memikirkan cara untuk mengatasi masalah yang "mungkin" akan dihadapinya di masa depan, seolah masalah tersebut "pasti" akan dihadapinya. Bangsat betul tokoh rekaan saya ini.

Sementara masalah dalam hidup bukan sesuatu yang salah, karena.... Karena..... Hmmm, agak susah menjelaskannya dengan kata-kata. Yang pasti apa yang ingin saya tulis ini dapat anda bayangkan dengan melihat orang-orang, tua maupun muda, yang sedang berkendara di jalanan, dengan kendaraan yang lebih buruk dari anda. Sementara anda sendiri sadar bahwa orang-orang tersebut telah berusaha lebih keras dari anda. Tapi.... Anda duduk di mobil ber-AC. Mereka tidak. Beberapa di antara kita bahkan mengejek mereka lho. Bangsat? Iya. Oh, tunggu, itu aku.

Kembali ke Amat. Di sisi lain pikiran Amat, dirinya sedang bergelut untuk membedakan antara passion-nya dan excuse-nya, atau mungkin keduanya memang adalah hal yang sama? Saya juga tidak tahu, mungkin Amat sudah tahu. Mungkin saat ini Amat sudah menyadari bahwa cita-citanya saat ini berbeda dengan cita-citanya yang lalu karena cita-cita nya yang lalu telah membuatnya lelah. Mungkin sudah saatnya dia mengecat ulang pintu merah di rumahnya menjadi hitam.

Tapi satu yang saya tahu tentang apa yang dipikirkan Amat, saat ini Amat sedang mencoba meredam obsesinya mengumpulkan penny, sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa uang yang banyak tidak akan berguna jika umurnya tidak cukup panjang untuk menikmatinya, sambil membayangkan dirinya mati di umur 27 tahun dalam kecelakaan mobil. Sungguh tokoh rekaan yang aneh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar